
Pada abad ke-11 dan ke-12, Baku telah berkembang menjadi pelabuhan laut komersial yang signifikan di Laut Kaspia. Menanggapi meningkatnya masalah keamanan, dinasti Shirvanshah memulai inisiatif pembangunan yang luas yang bertujuan untuk membentengi kota tersebut. Sebuah benteng yang tangguh didirikan di sekitar Baku, yang memiliki tiga dinding konsentris dan parit yang dalam untuk perlindungan tambahan. Selain itu, serangkaian menara bendera dan benteng yang lebih kecil dibangun di atas pegunungan di sekitarnya, menciptakan jaringan pertahanan yang komprehensif untuk kota tersebut, yang saat ini terletak di Semenanjung Absheron.
Asal muasal menara dan kastil ini dapat ditelusuri kembali ke abad ke-11 dan ke-12, meliputi bangunan-bangunan terkenal seperti Menara GadisBenteng Sabil, Benteng Ramana, Benteng Mardakyand, dan Benteng Shikh. Benteng-benteng ini, yang utamanya berfungsi sebagai pos-pos militer, merupakan garis pertahanan pertama terhadap potensi invasi. Antara abad ke-11 dan ke-14, Baku menghadapi banyak serangan dari berbagai kekuatan, termasuk Turki Seljuk, Mongol, dan Rus'. Pada tahun 1175, penguasa Shirvanshah Akhistan berhasil menggagalkan upaya Rusia untuk merebut Baku, dibantu oleh menara-menara dan benteng-benteng yang sudah ada, yang telah didekati oleh 73 kapal. Selain peran pertahanannya, menara-menara ini juga berfungsi sebagai pusat komunikasi; para pembela akan menyalakan minyak di puncak menara untuk memberi sinyal adanya bahaya yang mengancam kota tersebut.
Di antara kastil-kastil yang menjadi bagian integral dari sistem pertahanan Baku adalah Kastil Bayil, sekarang sebagian besar terendam di bawah perairan Teluk Bayil. Dibangun pada abad ke-13, benteng ini diposisikan secara strategis di seberang kota untuk melindungi dari serangan maritim. Namun, setelah gempa bumi dahsyat pada tahun 1306, permukaan air naik drastis, menyebabkan benteng tersebut tenggelam. Kastil ini dirancang dalam bentuk persegi panjang tidak beraturan, dikelilingi oleh dinding setebal 1.5 meter dan memiliki 15 menara di sepanjang perimeternya.
Menara Perawan, komponen penting lain dari benteng Baku, memiliki fungsi utama yang masih diperdebatkan. Struktur silinder ini, yang menjulang setinggi delapan lantai, memiliki berbagai fungsi sepanjang sejarahnya, termasuk berfungsi sebagai mercusuar selama abad ke-18 dan ke-19.
Di kota terdekat Ramana, orang dapat menemukan Benteng Ramana, benteng abad ke-16 yang dibangun dari batu putih. Benteng setinggi 15 meter ini dibangun atas perintah Shirvanshah untuk tujuan pertahanan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sebuah lorong bawah tanah pernah menghubungkan Benteng Ramana dengan Menara Maiden, yang memudahkan komunikasi dan pergerakan strategis.
Di dekat Baku, di kota Mardakan, terdapat bangunan pertahanan lain yang dikenal sebagai Benteng Mardakan. Dibangun pada pertengahan abad ke-14 atas perintah Shirvanshah Akhsitan, benteng ini memperingati kemenangan atas musuh yang kalah. Benteng ini berfungsi sebagai pos militer dan titik pengamatan, dengan ketinggian mencapai 22 meter.
Terakhir, Benteng Shikh, atau Ishyg Galasi (Benteng Cahaya), merupakan bangunan pertahanan penting lainnya di desa yang sama. Dibangun pada tahun 1232, benteng setinggi 16 meter ini berfungsi sebagai pos pengamatan, yang selanjutnya meningkatkan kemampuan pertahanan wilayah tersebut.
Benteng Nardaran (bahasa Azerbaijan: Nardaran qalası) dibangun pada tahun 1301 oleh arsitek Mahmud ibn Saad, terletak di bagian utara Semenanjung Absheron. Terletak 25 kilometer di utara Baku, benteng ini berada di desa Nardaran, tidak jauh dari kota Mashtaga. Keluarga Shirvanshah memanfaatkan benteng ini untuk tujuan pengawasan dan pertahanan. Di dekat benteng, sekitar 200 meter jauhnya, berdiri Masjid Nardaran, yang juga dikenal sebagai Tempat Suci Rahimakhanym, yang dibangun pada tahun 1663.
Jalan-jalan di Fountain Square
Jelajahi kota tua Icheri Sheher
Kagumi Menara Perawan
Rasakan api abadi Yanardag
Temukan petroglif Gobustan
Saksikan gunung lumpur yang unik