
Selama lebih dari satu setengah abad, misteri Tamgaly-Tas (bahasa Kazakh: Таңбалы тас) telah membingungkan para peneliti. Siapakah seniman kuno yang mengukir gambar-gambar misterius ini di bebatuan, dan apa tujuan mereka dengan tanda abadi ini? Pertanyaan-pertanyaan ini masih belum terjawab, namun daya tarik petroglif misterius ini semakin bertambah, menarik wisatawan dari seluruh dunia ke ngarai Tamgaly-Tas, tempat mereka dapat menyaksikan langsung ukiran batu hewan, manusia, dan dewa-dewi Buddha serta merasakan kekuatan keabadian di hadapan mereka.
Perlu dicatat bahwa Tamgaly-Tas sering disalahartikan dengan situs sejarah Kazakhstan lainnya, Tanbaly, terletak di daerah berbeda di wilayah Almaty, yang juga menampilkan petroglif yang berasal dari Zaman Perunggu.
Ngarai Tamgaly, yang terletak hanya 114 kilometer di utara Almaty, menawarkan perjalanan bagi para pengunjung dari kota metropolitan modern ke zaman kuno. Lebih dari 4,000 petroglif dan prasasti, yang diukir dalam berbagai periode sejarah, memberikan gambaran budaya dari masa lampau. Nama "Tamgaly" berasal dari bahasa Kirgistan, yang berarti "batu dengan tanda." Ngarai itu sendiri, yang terdiri dari batu tulis dengan lereng vertikal yang curam, memiliki ukiran yang jelas dari berbagai era. Gambar tertua, dari awal Zaman Perunggu (3,500–2,500 SM), menggambarkan hewan seperti unta, banteng, dan rusa. Ukiran selanjutnya menunjukkan adegan perburuan dan ritual, sering kali dengan figur laki-laki dan perempuan, yang menawarkan wawasan berharga bagi para cendekiawan tentang kegiatan sehari-hari, kepercayaan, dan gaya hidup orang-orang kuno.
amgaly-Tas juga menyimpan banyak gambar dan prasasti Buddha yang ditulis dalam huruf-huruf Turki Kuno, yang kemungkinan ditinggalkan oleh orang-orang Kipchak pada akhir abad ke-8 atau awal abad ke-9. Di antara gambar-gambar yang paling terkenal adalah gambar Buddha, yang di bawahnya terdapat teks suci Sansekerta yang berbunyi, "Terberkatilah orang yang lahir dari bunga teratai."
Di batu tengah ngarai Tamgaly-Tas terdapat gambar Bodhisattva Arya Avalokitesvara, disertai dengan salah satu mantra Buddha yang paling terkenal, "Om Mani Padme Hum." Di sampingnya, terdapat prasasti yang berarti, "Saya bersujud kepada Avalokitesvara yang suci." Di sebelah kanan, di atas batu setinggi empat meter, terdapat Buddha Shakyamuni dengan prasasti di dekatnya: "Saya bersujud kepada Buddha Shakyamuni." Di sisi kiri, gambar Burkhan Mangla, dewa penyembuhan, terukir di batu.
Patung Buddha di Tamgaly-Tas sarat dengan legenda. Salah satu cerita menyebutkan bahwa pada abad ke-10, sebuah misi Buddha dalam perjalanan menuju Semirechye berkemah di tepi Sungai Ili. Gempa bumi melanda, menyebabkan bongkahan batu besar jatuh, yang ditafsirkan sebagai tanda bagi para pelancong untuk kembali ke India. Para pelancong kemudian mengukir tiga patung Buddha di atas batu yang jatuh tersebut.
Kisah lain mengklaim bahwa gaya yang diperkenalkan oleh biksu Buddha Zaya Pandita Oktorgui pada tahun 1648, yang dikenal sebagai todoroi nomyn bichig (“naskah sastra yang jelas”), digunakan untuk membuat petroglif. Teori lain lagi menyatakan bahwa pada tahun 1950-an, selama proyek film dokumenter Soviet, gambar-gambar diukir di Tamgaly-Tas atas permintaan Radio dan Televisi Negara Uni Soviet. Namun, teori ini tidak mungkin, karena catatan sejarah menyebutkan petroglif jauh sebelum berdirinya Studio Kazakhfilm atau Radio Negara Uni Soviet, yang didukung oleh berbagai penelitian tentang gambar-gambar tersebut.
Studi pertama yang tercatat mengenai petroglif Tamgaly-Tas dilakukan pada tahun 1875 oleh Chokan Valikhanov. Pada tahun 1897–1898, ahli bahasa Mongol Alexey Pozdneev menerbitkan deskripsi terperinci mengenai prasasti dan gambar dalam buletin Masyarakat Geografis Rusia. Pada tahun 1947, Profesor Marikovsky mendokumentasikan gambar-gambar megah ini, dan kemudian memasukkannya dalam bukunya tentang Semirechye.
Jelajahi petroglif Tamgaly kuno
Perjalanan indah melalui lanskap Zhetisu
Berjalan melalui ngarai bersejarah
Lihat lebih dari 2,000 ukiran batu
Pelajari tentang peradaban Zaman Perunggu
Temukan warisan budaya yang terdaftar di UNESCO