
Masjid Bawah Tanah Shakpak-Ata, monumen tertua di Kazakhstan Barat, terletak di wilayah Mangystau, sekitar 45 kilometer di barat laut desa Tau-Chik, yang terletak di Ngarai Shilikkuduk. Masjid ini, yang dipahat langsung dari batu tempat dua jurang membelah lereng Gunung Ungazy menuju Teluk Sarytas, memikat dari segi arsitektur dan sejarah. Secara arsitektur, masjid ini berdiri sebagai keajaiban—dipahat dari formasi batu yang kokoh—sementara secara historis, masjid ini dikaitkan dengan tokoh yang dihormati Shakpak-Ata, yang banyak legendanya telah berkumpul di sekitarnya, menciptakan aura sakral yang telah menarik pengunjung untuk menghormatinya selama berabad-abad. Setiap sudut masjid telah dipelajari dan didokumentasikan dengan saksama, namun Shakpak-Ata sendiri tetap misterius. Rincian tentang nama aslinya atau kehidupannya masih belum diketahui, membuatnya diselimuti misteri.
Selama ribuan tahun, banyak orang dimakamkan di dalam masjid ini—orang-orang Turkmenistan, Adai dari pesisir Laut Kaspia, dan suku-suku kuno lainnya. Dahulu, tempat suci ini juga menjadi tempat sekolah agama (madrasah), tempat para siswa belajar di siang hari dan beristirahat di malam hari. Namun, selama masa konflik, musuh menyergap masjid, merenggut nyawa para siswa saat salat. Jenazah mereka kini dimakamkan di dalam tempat suci tersebut. Sebuah tangga, yang dulunya berisi banyak jenazah manusia yang kemudian dimakamkan kembali di dekat masjid, membawa pengunjung ke tanah suci ini.
Saat memasuki masjid, tata letak interior berbentuk salib—yang jarang ditemukan dalam arsitektur Islam—langsung terlihat menonjol, mendukung teori bahwa suku-suku lokal telah mendiami formasi batuan ini jauh sebelum kedatangan kaum Sufi sekitar abad ke-9. Para sejarawan menduga bahwa lokasi masjid ini dulunya adalah sebuah gua sederhana, yang dihuni oleh manusia purba sejak era Paleolitikum. Gua-gua di wilayah ini sering kali memiliki sumber air, sehingga ideal untuk pemukiman. Kemungkinan, penduduk pertama memperluas ceruk alami ini dan menghiasi dindingnya dengan seni primitif. Seiring penyebaran Islam, gua-gua ini menjadi rumah spiritual bagi kaum Sufi—suatu ordo unik yang religius sekaligus militan. Di gua-gua ini, para Sufi muda dilaporkan berdoa, bermeditasi, dan bahkan berlatih seni militer.
Selama berabad-abad, kaum Sufi memelihara masjid tersebut, meninggalkan jejak mereka di setiap inci bangunan tersebut. Dindingnya masih menyimpan jejak lukisan polikrom dan simbol dari berbagai suku, termasuk penggambaran kuda, penunggang, banteng, tangan, dan desain bunga yang rumit. Di antara ukiran-ukiran ini terdapat sebuah syair yang secara puitis merenungkan sifat kehidupan yang fana. Serangkaian prasasti lainnya, seperti “Bashim Berdimukhammed Usta Tarkhan” dan “Bantam Muhammad Bahi-Hafiz,” menyerupai stempel keluarga yang sering ditemukan di batu nisan Mangystau. Salah satu simbol yang menonjol, telapak tangan terbuka, mencerminkan jimat Sufi yang melindungi situs suci ini dari kekuatan jahat—desain yang mirip dengan tangan Fatima, putri Nabi Muhammad, yang masih ada di lambang negara Aljazair.
Empat tiang hias besar menghiasi aula tengah, membentang ke arah kubah bulat dengan bukaan melingkar di tengahnya, membanjiri aula dengan cahaya saat menerangi mereka yang sedang berdoa. Sebuah tangga spiral naik ke puncak batu, tempat lebih banyak kuburan berada, termasuk kuburan bayi. Di dekat kuburan ini terdapat papan permainan tradisional Kazakh, toguz kumalak, diukir di batu. Dari sudut pandang ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan pekuburan kuno, yang terbagi menjadi wilayah Turkmenistan dan Kazakh.
Menurut beberapa orang, nama asli Shakpak-Ata adalah Shahmardan, nama yang berarti "raja ular" atau "penguasa dunia bawah", julukan yang bermakna karena penyembahan ular masih lazim di Mangystau. Misalnya, jika seseorang bermimpi tentang ular saat tinggal di masjid Beket-Ata, diyakini bahwa roh Beket-Ata telah muncul dalam bentuk ular. Dalam satu kisah, Shakpak-Ata dinamai demikian karena, dalam pertempuran, percikan api akan beterbangan dari senjatanya seperti batu api yang menghantam batu—sebuah fenomena yang diterjemahkan sebagai tas shakpak dalam bahasa Kazakh. Legenda lain mengaitkan nama tersebut dengan endapan batu api di dekatnya yang menjadi inspirasi judul tersebut.
Informasi Pengunjung
Masuk ke masjid ini gratis, dan buka setiap hari mulai pukul 9 hingga matahari terbenam. Di dalam masjid, pengunjung diminta untuk tetap tenang, terutama saat ada jamaah. Disarankan untuk mengenakan pakaian yang sopan, dan pengunjung disarankan untuk tidak mengenakan rok pendek, celana pendek, pakaian ketat, atau pakaian yang memperlihatkan bahu.
Hampir disana
Pemukiman terdekat, desa Tau-Chik, berjarak 45 kilometer. Tidak ada angkutan umum yang melayani masjid tersebut, jadi masjid tersebut dapat diakses dengan mobil atau sebagai bagian dari rombongan wisata. Dari kota Aktau, wisatawan dapat mengikuti jalan utama hingga mencapai persimpangan setelah Tau-Chik, atau, jika datang dari arah berlawanan, antara desa Kiyakty dan Tau-Chik. Perjalanan dari Aktau memakan waktu sekitar dua jam, menempuh jarak sekitar 127 kilometer ke masjid.
Kunjungi Museum Sejarah Daerah Mangystau
Jelajahi Gereja Kabar Sukacita
Lihat Masjid Beket-Ata
Naik ke atap mercusuar
Kagumi Monumen Taras Shevchenko
Kunjungi Oseanarium Riviera Kaspia